Let’s TALK 2026: Menumbuhkan Keberanian Berbahasa Inggris di Sekolah Dasar
Let’s TALK 2026 adalah proyek pengabdian masyarakat dari siswa Leadership and Communication (LnC) CAMPUHAN College, telah selesai dilaksanakan untuk siswa kelas 5 di SDN 6 Singakerta pada bulan Januari–Februari. Proyek yang berdurasi 2 bulan ini awalnya merupakan tugas Project Cycle Management (PCM) kemudian berkembang menjadi pengalaman yang menumbuhkan keberanian, rasa percaya diri, dan hubungan manusia yang hangat antara fasilitator muda dan siswa sekolah dasar.
Let’s TALK singkatan dari Teaching, Accompanying, Love, and Keenness membawa semangat Educare, proyek pendahulu yang menanamkan nilai-nilai Living Values Education. Meski hadir dengan nama baru, napasnya tetap sama: menciptakan ruang belajar yang membuat setiap anak merasa dicintai, dimengerti, dihargai, bernilai, dan aman. Di ruang seperti inilah pendidikan menemukan kembali kehangatannya.
Anak-Anak Bisa, Hanya Belum Berani

Melalui pre-test pada 34 siswa kelas 5, fasilitator menemukan bahwa anak-anak sebenarnya memahami bahasa Inggris, tetapi mereka kurang percaya diri dalam menggunakannya. Temuan ini menjadi dasar Let’s TALK: bukan menambah hafalan, tetapi menumbuhkan keberanian untuk mencoba menggunakan Bahasa Inggris dalam suasana yang aman dan menyenangkan.
Proses Pembelajaran yang Hangat dan Adaptif
Siswa LnC merancang proyek ini dari awal; mulai dari jajak kebutuhan, mendesain pohon masalah, mendesain logframe, hingga melakukan simulasi mengajar. Setiap Sabtu pukul 10:00 – 12:30 Wita mereka hadir sebagai fasilitator pendamping, bukan guru yang serba tahu tapi sebagai teman belajar. Meski jadwal pelaksanaan beberapa kali berubah karena faktor luar, semangat mereka tetap sama yaitu menciptakan ruang belajar yang hangat, aman, dan penuh dukungan.
Perubahan pada Anak-Anak
Pada awalnya banyak siswa terlihat malu atau takut salah. Namun permainan, latihan dialog sederhana, dan pendekatan penuh kasih perlahan membuka keberanian mereka.
“Saya tidak suka Bahasa Inggris. Tapi semenjak belajar sama kakak, saya jadi suka,” ungkap Nadia.
“Kak, aku udah mulai bisa Bahasa Inggris loh. Makasih kakak-kakak CAMPUHAN College,” tambah Risma.
Perubahan kecil seperti ini menjadi bukti bahwa Let’s TALK bukan sekadar kegiatan belajar, tetapi pengalaman yang mengubah cara anak-anak memandang diri mereka.

Pertumbuhan Fasilitator Muda
Perubahan juga terjadi pada para fasilitator. Banyak yang awalnya ragu atau kurang percaya diri, namun pengalaman mengajar membuat mereka tumbuh.
”Sejujurnya, tantangan yang saya hadapi saat mengajar di sekolah dampingan sangat membantu saya dalam menumbuhkan kepercayaan diri saya. Bagi saya, tidak hanya siswa sekolah dasar yang kami dampingi saja yang belajar; kami sebagai fasilitator pun juga banyak belajar dari mereka.” ungkap Dewa Ayu Eka Santi Dewi, salah satu fasilitator Let’s TALK.
Dalam pelaksanaan Let’s TALK, setiap siswa LnC belajar mengelola kelas, bekerja dalam tim, dan menghidupi nilai-nilai pendidikan dalam setiap interaksi.
Tradisi Tahunan yang Menghadirkan Manfaat
Let’s TALK kini menjadi tradisi tahunan CAMPUHAN College. Setiap angkatan LnC akan datang ke sekolah untuk mempraktikkan ilmu yang telah mereka pelajari di dalam ruang kelas dan mengembalikannya kepada masyarakat. Harapannya sederhana, semakin banyak anak berani bermimpi, berani mencoba, dan semakin banyak ruang belajar yang aman melalui menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan.

Mari Berkolaborasi
Let’s TALK terbuka untuk bekerja sama dengan sekolah dan lembaga yang memiliki kepedulian yang sama. Jika Anda ingin berkolaborasi atau mengenal lebih dekat proyek ini, pintu kami selalu terbuka.
Mari bersama menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi, lebih hangat, dan lebih penuh cinta. (bg)