Merawat Benih Welas Asih
Masa muda adalah fase pencarian jati diri. Hidup di tengah terpaan media yang menyuguhkan beragam informasi yang sarat kekerasan baik secara fisik dan psikologis, verbal dan non-verbal. Atmosfer dari paparan tersebut bisa menimbulkan tekanan emosional yang mempengaruhi pola interaksi dan komunikasi mereka dengan orang lain. Tak jarang, itu termanifestasikan dalam perkataan dan tindakan yang meninggalkan jejak negatif dalam diri orang lain. Pilihan kata dan sikap yang lahir dari emosi negatif seringkali menciptakan sekat-sekat, kegagalan komunikasi, bahkan retaknya sebuah hubungan. Jika keretakan kecil ini terus dibiarkan, lambat laun orang akan semakin terasing dari lingkungan sosialnya; sesuatu yang tidak pada awalnya tidak diinginkan terjadi.

“Saya meyakini, setiap orang memiliki benih welas asih, coba cek, apakah kita merasa tidak nyaman ketika kita atau ada orang lain yang dipermalukan di depan umum? Saat melihat rekan kita tidak dilibatkan, apakah kita ikut merasa sedih atau kecewa?” - Gede Supardika, Fasilitator.
Sadar akan kondisi tersebut, Program 1-tahun Kepemimpinan dan Komunikasi (LNC-19) CAMPUHAN College bekerjasama dengan Capung Malajah, membekali siswanya dengan berbagai soft-skill agar lebih siap hidup bersama di masyarakat. Salah satunya dengan mengajak mereka lebih dulu menemukan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan dalam interaksi dengan orang lain. Mereka perlu lebih dulu memiliki ruang aman untuk mengenal dan menerima diri sendiri secara utuh, termasuk memahami emosi, nilai-nilai pribadi, serta kebutuhan dasar mereka.

Setelah sebelumnya membekali siswa dengan keterampilan menghidupkan nilai melalui Lokakarya Living Values Education (LVE), tahap berikutnya adalah mengasah keterampilan komunikasi melalui Lokakarya Komunikasi Welas Asih atau yang lebih dikenal dengan sebutan CoCo (Compassionate Communication). Pelatihan yang diselenggarakan pada tanggal 9 - 10 September 2026 ini dirancang untuk melatih siswa membangun hubungan yang sehat dan empatik. Melalui pendekatan Komunikasi Nir-kekerasan dari Marshall Rosenberg, para siswa diajak untuk memahami perasaan dan kebutuhan mereka agar dapat mengekspresikan apa yang diinginkan dengan lebih positif dan penuh empati. Keterampilan komunikasi ini dilatihkan untuk membantu para siswa meminimalisir kecenderungan menyalahkan orang lain ketika apa yang dibutuhkan tidak sungguh-sungguh dipahami. “Saya jadi mampu membedakan permintaan dan tuntutan serta lebih memahami berbagai perasaan”, demikian kata Ayu Wanda.
Dengan meningkatnya keterampilan komunikasi dipercaya akan meningkatkan kepercayaan diri dan ketahanan mental para siswa. Harapannya, di masa depan mereka lebih siap menghadapi tantangan hidup, lebih siap dan bertanggungjawab dalam membuat keputusan, serta mampu membawa perubahan positif bagi diri sendiri maupun lingkungan terdekatnya. (en)