Ruang Aman Yang Melahirkan Interaksi Empatik
Karuna Bali meyakini bahwa proses belajar yang bermakna sering kali dimulai dari pengalaman emosional yang positif. Ketika berbicara tentang proses belajar, banyak orang membayangkan materi yang menarik, fasilitator yang berpengalaman, atau metode pembelajaran yang interaktif. Semua itu memang penting. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: rasa aman.
Inilah yang menjadi semangat dalam Workshop Living Values Education (LVE) yang diselenggarakan oleh Yayasan Karuna Bali melalui Departemen Capung Melajah pada tanggal 3–5 Juli 2026. Selama tiga hari, peserta diajak mengalami secara langsung bagaimana sebuah kegiatan belajar dirancang untuk menghadirkan perasaan aman, membangun komunikasi efektif dan interaksi empatik. Melalui berbagai aktivitas seperti refleksi, games, diskusi kelompok, hingga latihan, peserta diajak untuk kembali terhubung dengan nilai dirinya dan bersentuhan dengan nilai orang lain.

Latihan menyimak aktif menjadi sesi yang paling berkesan dalam workshop kali ini. Peserta diajak menghubungkan pemahaman yang mendalam akan sebuah pesan dengan respon yang peduli yang melibatkan refleksi isi dan refleksi emosi. Pemahaman yang mendalam didapat ketika pesan diterima secara lengkap dan akurat. Respon yang peduli dihasilkan ketika pendengar memahami situasi batin pembicara. Ini lah ruang aman itu, di mana setiap pihak didengar tanpa dihakimi, divalidasi perasaannya, dianggap penting perspektifnya, sehingga lebih siap melihat persoalan dari sudut pandang yang baru. Disinilah komunikasi efektif dan interaksi empatik itu terjadi.
Selepas acara, sebagian besar peserta diminta berbagi pengalaman yang paling berharga selama mengikuti workshop. Sebagian besar menyampaikan apa yang masih mereka rasakan cukup kuat, diantaranya rasa tenang, ringan dan bahagia. Interaksi yang hangat dengan fasilitator maupun peserta lain bukan sekedar pelengkap melainkan bagian penting dari proses belajar bersama selama 3 hari tersebut. Peserta pulang membawa pengetahuan yang baru sekaligus semakin percaya bahwa nilai-nilai yang mereka miliki dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan selanjutnya. (ry)
