Sebelum Menemani Anak Didik, Sudahkah Kita "Pulang" ke Diri Sendiri?
Setiap pagi, para guru masuk ke dalam kelas dengan membawa lebih dari sekadar rencana pelajaran. Idealnya, guru hadir dalam kondisi siap dan bersemangat. Namun ada saat dimana ketidaknyamanan yang disebabkan oleh kelelahan, pikiran yang mengganggu baik yang dibawa dari rumah maupun dari kemacetan di jalan masih terbawa sampai ke kelas. Biasanya, anak-anak dapat membaca atau merasakan keadaan tersebut bahkan sebelum guru menyampaikan materi pembelajaran. Ini adalah salah satu keresahan yang disampaikan oleh para peserta pada Lokakarya Living Values Education (LVE) di Ubud, 18 - 20 September 2026.

Delapan orang peserta yang terdiri dari guru, kepala sekolah, dan fasilitator diajak untuk sejenak jeda dari rutinitas dan kembali ke dalam ketenangan untuk menyadari hal-hal esensial yang memotivasi mereka menjalankan perannya melalui sesi Kesadaran Nilai (Values Awareness) di hari pertama, para pendidik diajak untuk menggali dan memahami nilai-nilai pribadi yang diyakini dan ingin dihidupkan. Peserta diajak melihat bahwa mereka, sebagaimana manusia yang lain, saling berbagi nilai.
Di hari kedua, peserta mempraktekkan berbagai keterampilan menciptakan suasana bermuatan nilai, seperti menyimak aktif, memberi pujian, dan resolusi konflik. Peserta menemukan bahwa bertemunya nilai-nilai pribadi dengan berbagai keterampilan tersebut menjadi landasan utama dalam mendukung lingkungan belajar berbasis nilai bagi anak didik. Mereka juga menyadari kebutuhan untuk terus menerus menjaga batin tetap stabil, dengan memperdalam kesadaran, melipatgandakan kesabaran, serta terbuka untuk memaafkan. Dengan demikian setiap pendidik mampu memancarkan kualitas dan menghidupkan nilai bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan salah satu peserta:
“Di dunia yang semakin tidak baik-baik saja ini, sangat penting ada nilai cinta di dalamnya. Dengan cinta akan ada rasa empati dan welas asih yang akan menyentuh aspek perasaan.
What if love doesn’t work? Increase the dose.”
— Veronika Nariswari, Founder and Teacher at Spring School
Bagi para peserta, LVE bukan pengganti program yang sudah ada di sekolah, melainkan sarana yang membantu mengekspresikan nilai-nilai yang diyakini dalam praktek sehari-hari. Apa yang didapat dari lokakarya LVE diyakini bisa membantu para pendidik untuk menata diri sebelum menemani anak didik, dan secara tidak langsung manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh siswa namun bisa juga dapat dirasakan oleh para orang tua.
Di hari ketiga, para peserta merangkum pengetahuan dan keterampilan yang didapat dalam sebuah Rencana Tindak lanjut baik yang bersifat pribadi maupun kelompok yang dibuat bersama rekan sejawat. Salah satu kesan yang dirasakan selama proses workshop adalah setiap peserta bersedia berbagi dan saling mendengarkan dalam suasana yang penuh dengan penerimaan dan empati. Salah satu peserta mengatakan pengalaman ini terasa seperti “pulang kembali ke diri”.

"Saya sangat menikmati sharing di masing-masing sesi. Kita mengetahui sudut pandang orang tanpa menghakimi."
— Wisnu Saputra, M.Pd., Principal of Win School (pp)